Kinanti Adaninggar Rasyid (Kelas VIII C)
DAARENNISA – Kalau bicara hal yang menakutkan, monster di film horor mungkin langsung masuk daftar teratas. Tapi, jujur nih ya, ada satu makhluk kecil yang kedatangannya bisa bikin suasana adem berubah jadi semrawut dalam hitungan detik. Ada yang bias tebak?
Yup, benar sekali! Kecoa terbang!
What’s up guys! Pernah tidak sih, sedang santai tiba-tiba melihat ada si kecil coklat kurma yang sedang jalan santai di depanmu? Semulanya sedang duduk santai, kemudian spontan sibuk cari sandal, sapu, atau bahkan tempat berlindung. Parahnya lagi, arah terbang kecoa tak pernah bisa ditebak. Astaghfirullah!
Yang membuat janggal, kecoa sebenarnya tak perlu punya ukuran sebesar monster untuk membuat kita panik. Asalkan sayapnya mulai mengepak, yang awalnya hanya duduk santai, bisa tiba-tiba langsung gercep mencari benda apa pun untuk mengusirnya.
Ternyata, gerakan kecoa terbang yang bikin panik miliki alasan ilmiah juga, loh. Kecoa memiliki organ sensorik bernama Cerci di bagian belakang tubuhnya yang dapat mendeteksi perubahan aliran udara dengan cepat, sehingga kecoa bisa segera merespons ketika merasa terancam.
Kemampuan tersebut merupakan bagian dari mekanisme pertahanan diri, jadi kecoa terbang sebenarnya belum tentu sengaja mengarah ke manusia. Bisa saja mereka sedang panik dan berusaha kabur, tetapi gerakannya yang cepat dan sulit diprediksi justru membuat kita ikut panik.
Di sinilah kecoa terbang terasa lebih menakutkan daripada monster di film horor. Kalau monster biasanya muncul dengan aba-aba seperti music yang semakin tegang, kecoa bisa datang tanpa aba-aba dan membuat satu ruangan auto heboh. Ya Allah!
Belum lagi kalau kecoa tiba-tiba menghilang setelah dikejar, karena sekarang masalahnya bukan lagi “bagaimana cara ngusirnya??”, tetapi jadi “loh pergi kemana dia??”. Ya Allah, situasi seperti ini auto membuat kita lebih was-was daripada saat nonton adegan monster di film horor.
Pada akhirnya, kecoa memang bukan monster dan kemungkinan besar hanya sedang berusaha menyelamatkan diri ketika terbang menjauh. Simpulannya, kecoa terbang mungkin bukan makhluk paling berbahaya, tetapi soal bikin panik, mereka jelas punya bakat alami.
Tapi, sebenarnya boleh tidak ya kita membunuh kecoa dalam pendangan Islam? Hmmm.
Jadi, begini, guys…
“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,”
إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud no. 5267, Ibnu Majah no. 3224 dan Ahmad 1: 332. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
dan
Dari ‘Aisyah R.a., Nabi ﷺ bersabda,
خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ
“Ada lima jenis hewan fasik yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yaitu tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan kalb aqur (anjing galak).” (HR. Bukhari no. 3314 dan Muslim no. 1198)
Dalam Islam, terdapat beberapa hewan yang disebut sebagai hewan fasik, yaitu hewan yang keberadaannya dapat mengganggu, membahayakan, atau menimbulkan kerusakan. Dalam penjelasan Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz, hewan seperti ini diperbolehkan untuk dibunuh apabila memang keberadaannya menimbulkan gangguan atau bahaya. Namun, kebolehan tersebut tetap memiliki batasan, hewan tidak boleh dibunuh dengan cara yang menyiksa, seperti membakarnya.
Hewan fasik adalah hewan yang apabila dibiarkan dapat mengganggu dan menimbulkan kerusakan. Prinsip ini juga dapat diterapkan pada hewan lain yang memiliki sifat serupa, termasuk kecoa. Demikiannya dengan nyamuk, tikus, dan sebagainya.
Ada riwayat lain yang shahih (HR. Muttafaq ‘alaih) menganjurkan membunuh cicak.
Beberapa hadits tersebut dapat menjadi dasar kaidah. Pada dasarnya, hewan apa pun yang benar-benar mengganggu atau membahayakan manusia boleh dibasmi.
Jadi, kalau keberadaan hewan tersebut bisa membawa bahaya, mengganggu kesehatan, atau merusak lingkungan, kita boleh mengambil tindakan untuk menghilangkan bahayanya.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, hewan yang awalnya dilarang untuk dibunuh pun bisa dibunuh jika ternyata membahayakan. Karena dalam Islam, mencegah bahaya dan menjaga keselamatan manusia menjadi hal yang lebih utama.
Singkatnya, kalau ada bahaya, cegah. Kalau harus membasmi, lakukan dengan cara yang baik. 🌿
Kecoa dikenal sebagai hewan yang hidup di tempat-tempat kotor dan dapat menjadi pembawa berbagai kuman serta berpotensi mencemari makanan dan lingkungan. Karena itu, membasmi kecoa untuk menjaga kebersihan dan mencegah bahaya di dalam rumah diperbolehkan.
Hal ini sejalan dengan prinsip Islam yang sangat memperhatikan kebersihan dan pencegahan bahaya. Rasulullah ﷺ bersabda,
“Kebersihan adalah sebagian dari iman.”
(HR. Muslim)
Selain itu, terdapat pula kaidah penting dalam Islam,
“Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.”
(HR. Malik dalam Al-Muwaththa’)
Dengan demikian, membasmi kecoa bukan semata-mata karena tidak menyukainya, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kebersihan, kesehatan, dan mencegah mudarat.
Namun, Islam juga mengajarkan bahwa ketika harus membunuh hewan, kita tetap harus memperhatikan cara yang baik dan tidak menyiksa. Rasulullah ﷺ bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbuat baik dalam segala hal. Jika kalian membunuh, bunuhlah dengan cara yang baik, dan jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik.”
(HR. Muslim)
Karena itu, apabila kecoa perlu dibasmi, hendaknya dilakukan dengan cara yang cepat, efektif, dan meminimalkan penderitaan, misalnya menggunakan insektisida yang sesuai atau membunuhnya dengan cepat.
Jadi, membasmi kecoa diperbolehkan ketika keberadaannya mengganggu atau berpotensi membahayakan, tetapi kebolehan tersebut bukan berarti kita bebas menyiksa hewan. Islam tetap mengajarkan keseimbangan, mencegah bahaya sekaligus tetap berbuat ihsan kepada makhluk Allah.
Intinya… boleh membasmi, jangan menyiksa.
Karena bahkan ketika kita harus menghilangkan sesuatu yang mengganggu, Islam tetap mengajarkan untuk melakukannya dengan cara yang baik.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ
Wallahu A’lam bish shawab. ***
Editor: Ingeu Widyatari Heriana

