Sabrina Mika Alanna (Kelas IX C)
DAARENNISA – Mari kita mengingat-ingat terlebih dahulu. Kebiasaan apa yang kalian lakukan tadi pagi? Bangun tidur, melihat jam dalam keadaan setengah sadar, lalu mulai mengumpulkan nyawa dan bangkit, berjalan ke kamar mandi-bersiap untuk memulai hari. Kira-kira seperti itu setiap hari, bukan?
Nah, sekarang bayangkan ada suatu hal yang sedikit berubah dari kebiasaan itu. Mungkin hal sesederhana, bangun lebih telat satu menit dari biasanya? Perbedaan satu menit seharusnya terasa tidak begitu signifikan, ya. Namun, ternyata butterfly effect dapat membuat perubahan kecil itu bisa berpengaruh sangat masif kepada kehidupan orang lain tanpa kita ketahui.
Sebenarnya, apa itu butterfly effect? Butterfly effect adalah salah satu konsep dalam teori kekacauan yang menyatakan bahwa perubahan kecil bisa mengakibatkan suatu perubahan besar di tempat lain dalam jangka waktu panjang.
Contoh paling sederhana adalah pembahasan awal tadi, bangun tidur terlambat satu menit mungkin akan membuat kalian melewatkan satu lampu hijau dalam lalu lintas perjalanan ke stasiun.
Akhirnya, kereta yang biasa kalian tumpangi terlanjur berangkat dan berujung naik kereta selanjutnya. And who knows? Kalian bisa bertemu penumpang berbeda, starting a conversation that will probably lead you into a very different life.
Entah mungkin percakapan sederhana yang mempengaruhi pilihanmu terhadap perusahaan yang akan kalian lamar, atau universitas yang kalian tuju. Or the extreme one? You might find your future partner there. Itulah keajaiban dari sang efek kupu kupu.
Teori Butterfly Effect ini berawal dari Edward Lorenz pada tahun 1960-an. Ini adalah hal yang tidak sengaja disadari karena Lorenz menggunakan angka yang telah dibulatkan dalam simulasi pola cuacanya, which affects the whole equation, dan berakhir menghasilkan data simulasi cuaca yang sangat berbeda.
Padahal, perbedaannya sangat kecil. Namun, dalam konteks ilmiah, ternyata perbedaan sekecil itu sangat berpengaruh. Imagine how many plans would be cancelled because of the wrong weather forecast.
Berawal dari sana, Edward Lorenz pun menyadari bahwa perubahan kecil pada kondisi awal dapat menyebabkan perubahan besar pada hasil akhirnya. Well, that’s just how life works. Sebelas tahun kemudian, Lorenz memberikan suatu presentasi pada suatu forum dengan judul “Predictability : Does a Flap of a Butterfly’s Wings in Brazil Set Off a Tornado in Texas.” Apakah kepakan sayap kupu kupu di Brazil bisa menyebabkan tornado di Texas?
Ini adalah suatu pertanyaan retoris berupa metafora yang ternyata memiliki dasar ilmiah berupa suatu ketidakpastian. Atmosfer bumi yang sensitif berarti manusia tidak akan pernah bisa memprediksi cuaca jangka panjang secara sempurna, because we can’t measure unpredictable things- termasuk perubahan kecil dalam kondisi atmosfer yang dapat mempengaruhi hasil akhirnya.. Teori ini juga menunjukkan bahwa Butterfly Effect tidak selalu tertafsir sebagai “hal kecil bisa mengakibatkan bencana besar” melainkan juga “hal kecil bisa mencegah hal besar terjadi”.
Lalu, apakah teori ini berarti setiap hal yang kita lakukan bisa berpengaruh sangat besar? Sejak tadi, kita selalu menghubungkan hal kecil dengan hal besar. Namun, pada kenyataannya butterfly effect sendiri belum tentu terjadi pada setiap hal kecil yang kita lakukan. Butterfly effect bisa terjadi karena suatu sistem yang sensitif terhadap kondisi awal, seperti peristiwa Lorenz dan pembuktiannya terhadap sensitivitas atmosfer bumi.
Jadi, konsep ini bukanlah sesuatu yang selalu bisa diterapkan pada setiap kejadian dalam kehidupan. Butterfly effect pada dasarnya merupakan salah satu konsep dari chaos theory, yaitu teori yang membahas sistem yang kompleks, sensitif terhadap kondisi awal, dan sulit diprediksi dalam jangka panjang. Keputusan kecil bisa membawa kita ke situasi yang berbeda, karena setiap keputusan yang terjadi selalu berhubungan.
So, what can we learn from this? Small things do matter. Hal kecil yang bisa jadi kita anggap sepele, ternyata bisa berpengaruh besar jika dihadapkan dengan suatu kondisi sensitif yang mudah berubah. But, jangan jadikan konsep ini sebagai alasan untuk overthinking atau justru semakin ragu karena takut perubahan yang terjadi malah merugikan, ya.
Keraguan kita semua dalam melakukan hal sederhana dalam hidup bisa jadi menghalangi kita dalam memperoleh suatu kesempatan yang besar dan tidak disangka sangka.Jangan ragu untuk membuka jalan bagi kebetulan dan kesempatan. We never know what will happen. And perhaps, that is the point.***
Editor: Ingeu Widyatari Heriana

